Sumber Inspirasi Dan Berbagi

Karena Pengalaman Hidup adalah GURU yang terbaik

Meminang

meminang Meminang

Meminang adalah permintaan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita tertentu, dengan cara memberitahukan kepadanya atau walinya, secara langsung atau melalui keluarganya. Ia adalah sebuah perjanjian untuk menikah, bukan menikah itu sendiri, sehingga kedua belah pihak tidak boleh bergaul kecuali sebatas apa yang dibolehkan oleh syariat. Meminang—disebut juga khithbah—disyariatkan sebagai cara untuk saling mengenal antara calon suami dan istri, jalan untuk mengetahui tabiat, akhlak, dan kecenderungan dari pihak masing-masing, juga untuk mencapai kesepakatan menuju pembentukan mahligai rumah tangga bahagia.

Meminang dilakukan bisa dengan dua cara. Pertama, secara langsung, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang wanita, “Saya ingin menikah denganmu,” dan tidak langsung, yaitu ucapan seorang laki-laki yang dipahami bahwa ia ingin menikahi seorang wanita, seperti perkataan, “Hai, Fulanah, sesungguhnya kamu sudah cocok untuk menikah,” atau “Alangkah bahagianya orang yang menjadi pasangan hidupmu,” atau “Saya ingin mencari calon istri yang seperti kamu.”

Apakah wanita yang sudah dipinang oleh seseorang boleh dipinang oleh yang lainnya? Para ulama sepakat mengharamkan pinangan yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap seorang wanita yang telah dikhithbah sebelumnya oleh calon yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Janganlah seseorang dari kamu membeli apa yang sudah dibeli oleh saudaranya, dan jangan pula meminang (wanita) yang sudah dipinang oleh saudaranya kecuali dia mengizinkannya.” (HR Muslim, dari Ibnu Umar)

Sementara dalam riwayat Bukhari, “Rasulullah saw. melarang seseorang membeli apa yang sudah dibeli oleh saudaranya, dan melamar (wanita) yang sudah dilamar oleh saudaranya, hingga ia meninggalkannya atau mengizinkannya.”

Saat meminang dibolehkan memandang, walaupun hukum dasar melihat wanita yang bukan muhrim adalah haram berdasarkan ayat,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’”

(an-Nuur: 30)

Demikian pula hadits berikut, di mana Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib r.a., “Ya, Ali, janganlah engkau ikutkan pandangan dengan pandangan, sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama, bukan yang akhir.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Turmudzi)

Sejauh manakah boleh memandang wanita yang hendak dinikahi? Dalam hal ini syariat membolehkannya dengan dua cara. Pertama, mengutus seorang wanita yang dipercaya untuk melihatnya. Riwayat Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus Ummu Sulaim kepada seorang wanita sambil bersabda,

“Lihatlah pangkal lehernya, dan ciumlah baunya.” (HR Ahmad, ath-Thabrani, al-Hakim, dan Baihaqi)

Dalam riwayat yang lain, “Ciumlah bau giginya (mulutnya).”

Yang kedua secara langsung, sebagaimana sahabat Jabir r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Apabila salah seorang di antaramu meminang wanita, apabila ia bisa melihat dari wanita itu apa yang membuatnya untuk segera menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya,” Jabir berkata, “Aku pun meminang seorang wanita, aku bersembunyi darinya hingga aku bisa melihatnya apa yang membuat aku segera menikahinya, maka aku pun menikahinya.” (HR Ahmad)

Saat Mughirah bin Syu’bah meminang seorang wanita, Nabi berkata kepadanya, “Lihatlah ia karena akan lebih menguatkan hubungan di antara kalian berdua.”

(HR Khamsah)

Sebagian besar ulama sepakat bahwa pandangan hanya sebatas wajah dan kedua telapak tangan. Namun, Imam Abu Hanifah membolehkan pandangan lebih dari itu, seperti kepala, leher, kaki, dan betis. Dari Muhammad bin al-Hanafiyyah dan Said bin Manshur, bahwa Umar datang kepada Ali bin Abi Thalib meminang anaknya yang bernama Ummu Kultsum. Lantas, Ali menceritakan masa kecilnya, dan berkata kepada Umar, “Saya akan bawa ia kepadamu, bila engkau suka maka ia menjadi istrimu.” Ali pun mengutusnya kepada Umar, lantas Umar pun menyingkap betisnya. Ummu Kultsum berkata, “Kalaulah engkau bukan Amirul-Mukminin, tentulah sudah kucolok matamu.”

Dalam meminang, yang boleh diperhatikan adalah masalah kesepadanan (kufu`). Kesepadanan adalah kesetaraan dan kesamaan antara calon suami dan istri, baik dalam status sosial, ekonomi, ilmu, akhlak, maupun agamanya. Namun, syariat lebih menitikberatkan kesepadanan itu dalam aspek agama dan akhlak, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (an-Nuur: 26)

Ibnu Hazam berkata, “Orang Islam mana pun asal bukan pezina, berhak mengawini wanita muslimah mana saja selagi bukan pezina, sesuai firman Allah Ta’ala, ‘Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi (an-Nisaa`: 3).’”

Setelah terjadi pinangan, hal yang harus tetap dipahami adalah ia bukanlah pernikahan. Ia masih sebatas janji untuk menikah sehingga tidak ada konsekuensi hukum-hukum pernikahan dan suami istri. Wanita yang sudah dipinang statusnya tetap sebagai wanita yang masih asing (mahram). Karenanya, hubungan harus tetap dijaga agar tidak melanggar batas-batas syariat, sesuai dengan sabda Nabi saw.,

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya kecuali dengan muhrimnya, karena yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad, asy-Syaikhan, dari Amir bin Rabiah)

Dalam acara meminang, biasa dilakukan dengan pendekatan tradisi/adat setempat, di antaranya tukar cincin. Bila maksudnya adalah saling memberi hadiah, dan bukan sebuah akad pernikahan yang dengannya dihalalkan hukum-hukum suami istri, maka hal tersebut boleh-boleh saja. Dari Amru bin Syuaib, dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Wanita mana saja yang dinikahi dengan mahar dan hadiah sebelum ikatan nikah, maka hal itu baginya, dan bagi wali yang menikahkannya bila ia diberikan sesudahnya.” (HR Khamsah, kecuali at-Turmudzi)

Seorang wanita yang dipinang boleh menolak pinangan seorang lelaki bila ia merasa tidak menyukainya. Dalam hal ini ia mempunyai hak untuk menerima atau menolak, dan walinya (ayahnya) tidak boleh memaksanya. Rasulullah saw. bersabda,

“Janda lebih berhak terhadap dirinya sendiri, dan perawan (gadis) dimintakan izinnya, dan izinnya adalah diamnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ada satu riwayat dari Ibnu Majah, seorang gadis mendatangi Rasulullah saw. dan mengadukan ayahnya yang telah menikahkannya dengan anak saudaranya yang tidak ia sukai. Nabi pun mengembalikan urusan tersebut kepadanya (boleh untuk menolak). Wanita tersebut kemudian berkata, “Sungguh, aku tidak mampu menolak keinginan ayahku, akan tetapi aku ingin memberitahu  kepada segenap wanita bahwa dalam urusan ini para bapak tidak ada hak sedikit pun juga.” Kebalikannya, bila sang gadis sudah setuju, maka tidak boleh bagi para wali untuk menunda-nunda menyegerakan pernikahan, sesuai sabda Nabi saw.,

“Tiga hal jangan diperlambat: shalat bila sudah masuk waktunya, jenazah bila sudah didatangkan, dan gadis bila sudah menemukan calon suaminya yang sepadan.” (HR at-Turmudzi)

Wanita yang bagaimanakah yang sebaiknya dipinang? Secara umum Rasulullah saw. menggambarkannya dalam sabdanya,

“Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, maka dahulukanlah agamanya, niscaya engakau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Namun, bisa ditambahkan beberapa kriteria lagi, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Wanita yang subur, sesuai sabda Rasulullah saw., “Kawinilah wanita yang subur lagi penuh cinta, karena aku senang umatku banyak pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud, an-Nasaa`i, dan al-Hakim)
  2. Wanita yang perawan, sesuai sabda Nabi saw., “Hendaknya kawinilah yang perawan, sebab kamu dapat bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  3. Wanita dari keluarga yang agamanya baik, sesuai sabda Rasulullah saw., “Tinggalkanlah olehmu khadraa’ud-damn!” Para sahabat bertanya, “Apakah itu khadraa’ud-damn, ya, Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Wanita cantik dalam lingkungan yang buruk.” (HR ad-Daruquthni dan ad-Dailami, dari Abu Said al-Khudri)
  4. Wanita yang berbeda nasab dan tidak ada hubungan kerabat, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Janganlah kerabat menikahi kerabat, karena anak yang lahir akan lemah.”

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Sumber :

Rubrik                     : Fiqih Kehidupan
Tema                     : Meminang/Khitbah
Narasumber   : Dr. Salim Segaf al-Jufri
Presenter         : Abdul Muyassir, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Spam Protection by WP-SpamFree

Sumber Inspirasi Dan Berbagi © 2014 Frontier Theme