REMAJA BERKUALITAS BEBAS “NAZA” & “AIDS”

Posted on 201 views

Berbicara tentang remaja selalu menarik dan penting.  Menarik karena remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dan dewasa, yang  mempunyai problematika yang kompleks. Penting karena remaja  merupakan 30% dari seluruh penduduk dunia. Dan 77,6% dari seluruh penduduk dunia yang berumur antara 15-24 tahun  dalam tahun  1980 tinggal di negara  yang sedang berkembang. Angka ini diramalkan meningkat menjadi 83,5% pada tahun 2000 (WHO).

Sedangkan apa yang menjadi gambaran kehidupan remaja masa kini merupakan cerminan bentuk generasi akan datang. Bila unggul kualitas remaja itu (baik kualitas IPTEKnya maupun kedalaman Iman dan Taqwanya) maka  tangguhlah generasi mendatang, tapi bila sebaliknya bila bobrok kualitas remaja itu maka hancurlah  masa depan generasi itu.

Kenakalan remaja akhir-akhir ini semakin memprihatinkan baik  dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Beberapa bentuk kenakalan remaja yang banyak ditemukan sekarang ini antara lain : Penyalahgunaan NAZA (narkotik, alkohol dan Zat aditif), dan penyimpangan perilaku seksual (AIDS).

A. PENYALAHGUNAAN  NAZA

Penyalahgunaan NAZA (Narkotik, Alkohol, Zat Aditif/ Ektasi) akhir-akhir ini mencuat kembali ke permukaan setelah korban demi korban berjatuhan. Yang memprihatinkan , korban penyalahgunaan NAZA pada umumnya remaja dan orang dewasa muda (usia 16-25 tahun) yang merupakan sumber daya manusia atau aset masa depan bangsa. Pemakaian ekstasi adalah salah satu yang terbesar  selain minuman keras, heroin, narkotik, ganja dan sejenisnya. Bahkan akhir-akhir ini pemberitaan ektasi begitu marak di koran-koran (kasus Zarima, pilot garuda dll)

I. Penyalahgunaan  Alkohol ( Minuman keras / miras )

Miras atau minuman keras adalah jenis minuman yang mengandung alkohol, tidak peduli berapa kadar alkohol didalamnya. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa bahwa setetes alkohol saja dalam minuman hukumnya sudah haram.

Alkohol termasuk zat adiktif, artinya zat tersebut dapat menimbulkan adiksi (addiction) yaitu ketagihan dan ketergantungan. Pemakaian miras dapat menimbulkan gangguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berfikir, perasaan, dan perilaku. Timbulnya GMO ini disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel syaraf pusat (otak). Karena sifat yang adiktif dari alkohol ini, maka orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa disadari akan menambah takaran / dosis, sampai pada dosisi keracunan (intosikasi) atau mabuk.

Gangguan Mental Organik (GMO) yang terjadi  pada diri seseorang  dapat ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :

1.      Terdapat dampak berupa perubahan perilaku, misalnya :

  • perkelahian dan tindak kekerasan lainnya,
  • ketidakmampuan menilai realitas (hendaya/gangguan daya nilai)
  • gangguan dalam fungsi sosial dan pekerjaan

2.      Paling sedikit ada satu dari gejala fisiologik berikut :

  • Pembicaraan cadel (slurred)
  • Gangguan koordinasi
  • cara jalan yang tidak mantab
  • nistakmus (mata jereng)
  • muka merah

3.      Paling sedikit ada satu gejala dari gejala Psikologik berikut :

  • perubahan perasaan (afek)
  • mudah marah dan tersinggung (iritabilitas)
  • banyak bicara (melantur)
  • hendaya atau gangguan pemusatan perhatian/konsentrasi, hendaya besar pengaruhnyabagi kecelakaan lalulintas

Bagi mereka yang sudah ketagihan atau ketergantungan, bila pemakainnya dihentikan akan menimbulkan sindrome putus obat alkohol . Gejala sindrom putus obat alkohol adalah sebagai berikut :

  • Gemetaran (tremor) kasar pada tangan, lidah, dan kelopak mata
  • Paling sedikit ada satu dari gejala berikut yaitu :
    • mual dan muntah
    • kelemahan atau keletihan
    • hiperaktivitas syaraf autonom (misalnya jantung berdebar-debar, berkeringat berlebihan dan tekanan darah meninggi)
    • kecemasan (gelisah)
    • tidak tenang (rasa ketakutan)
    • perubahan alam perasaan menjadi pemurung dan mudah tersinggung (banyak diantara peminum berat jatuh dalam keadaan depresi berat, timbulnya pikiran ingin bunuh diri, dan melakukan tindak bunuh diri)
    • hipotensi ortostatik (tekanan darah menurun karena perubahan posisi tubuh: berbaring, duduk dan berdiri)
    • Halusinasi dengar (mendengar suara-suara ancaman padahal tidak ada sumber/stimulasi suara itu)

Dengan  adanya gejala sindrom putus alkohol tersebut diatas yang dirasakan sebagai suatu “penderitaan”, orang lalu berupaya untuk minum miras lagi dengan takaran yang semakin bertambah, demikianlah seterusnya bagaikan lingkaran setan yang sulit dihentikan.

Penelitian membuktikan bahwa pemakaian miras dalam jangka panjang dapat mengakibatkan gangguan pada organ otak, liver (hati), alat pencernaan, pankreas, otot, janin, endokrin, nutrisi, metabolisme dan resiko kanker. Organ tubuh yang paling sering diserang adalah hati/lever dan otak. Sel-sel hati akan tertimbun lemak sehingga kurang suplai makanan dan mati. Bukan tidak mungkin menjadi sirosis bahkan berkembang menjadi kanker hati.  Demikian juga dengan  sel-sel saraf otak, kerusakannya akan berakibat stroke, koma bahkan kematian. Sebagai contoh di Amerika Serikat setiap tahun tidak kurang dari 20.000 jiwa mati akibat komplikasi penyakit liver karena mengkonsumsi miras.

Tindak kekerasan akibat dipacu oleh miras dapat mengakibatkan cidera, cacat, hingga kematian. Sebagai contoh statistik di Amerika Serikat menyatakan bahwa setiap tahun tidak kurang dari 25.000 jiwa mati akibat kecelakaan lalu lintas karena pengemudi di bawah pengaruh miras. Tindakan kekerasan termasuk pembunuhan dan bunuh diri akibat pengaruh miras mencapai  15.000 jiwa setiap tahun di Amerika Serikat. Empat puluh juta anak dan suami atau istri menanggung derita mental, manakala salah satu anggota keluarganya menderita ketergantungan miras. Masih dari Amerika Serikat setiap tahun terdapat lima juta kasus tindak kekerasan yang berkaitan dengan pemakaian miras, dan ini merupakan 50 % dari seluruh kasus penahanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

Bagaimana dengan Indonesia yang mayoritasnya penduduknya  beragama Islam dan sedang membangun ini ? maka pemakaian miras, tentunya lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.

Bagi Umat Islam, miras jelas hukumnya yaitu Haram (Qur’an Surat Al-Maidah 90-91 dan Al-Baqarah 219). Namun ada peringatan yang lebih keras lagi yaitu sebuah hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal yang  berasal dari Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah saw memberitahu umatnya : “Malaikat Jibril datang kepadaku lalu berkata : Hai Muhammad Allah melaknat minuman keras, pemerasnya, orang-orang yang membantu pemerasannya, peminumnya, penerima/penyimpannya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang-orang yang disuguhinya”. (Catatan : yang dimaksud dengan ‘pemerasnya’ adalah orang yang memeras buah anggur untuk dijadikan miras)

II.  Penyalahgunaan Narkotik dan Zat Aditif

Sebagaimana dengan miras penyalahgunaan narkotik dan zat aditif akhir-akhir ini juga semakin meningkat kualitas maupun kantitasnnya. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya kasus yang terungkap dilapangan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

Masyarakat Amerika yang menganggap dirinya negara modern dan adikuasa dunia, misalnya tidak dapat lepas dari obat, bahkan ada pendapat mengatakan kian modern suatu masyarakat, penyalahgunaan NAZA kian cenderung meningkat. National Institute of Drug Abuse (NIDA, 1986) menyebutkan bahwa satu dari enam remaja adalah penyalahgunaan NAZA yang berat (Cummings 1979, Thorne 1986). Bahkan Andrew L. Shapiro menyatakan bahwa Amerika menempati urutan keempat terbesar di dunia dalam pengkonsumsian minuman keras (miras) setelah Kanada, Finlandia dan Spanyol  ( Brewers Asosiation of Canada, 1989). Tapi menempati urutan nomor satu dalam hal pengkonsumsian obat-obatan terlarang, ganja dan kokain.

Yang termasuk kategori Narkotika adalah Morfin, heroin, ganja, candu, dan kokain. Sedangkan zat aditif artinya zat lain selain narkotik dan alkohol yang dapat mengakibatkan adiksi (kecanduan / ketagihan dan ketergantungan). Pengaruh zat aditif terhadap syaraf pusat (otak) serupa dengan Narkotika dan Alkohol, dan salah satu zat yang termasuk zat aditif  adalah ECSTASY (EKTASI).

Pada makalah ini kami akan membahas lebih banyak tentang ektasi, karena akhir-akhir ini ektasi merebak dimana-mana. Tidak hanya di Ibukota, tapi sudah sampai kedaerah-daerah. Rupanya bisnis ektasi semakin marak saja. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan aparat penegak hukum baik dalam razia maupun penggagalan penyelundupan di bandara-bandara. Ini merupakan bukti bahwa ektasi dan juga bahan terlarang lainnya yang masuk ke Indonesia tidak lagi sekedar ‘transit’ , tapi Indonesia sudah merupakan negara tujuan atau ‘market’.

Ektasi bukanlah nama obat yang dikenal didunia kedokteran, melainkan nama yang dipakai dipasaran gelap (nama jalanan). Sama dengan nama lainnya semisal “speed’, “inex’ dll. Zat aktif yang dikandung dalam ektasi adalah “amphetamine”, suatu zat tergolong stimulansia (perangsang)

Gejala Pemakaian Ektasi

Di dunia kedokteran zat amphetamine digunakan antara lain untuk mengobati penyakit hyperkenesia, depresi ringan dan narkolepsi. Penggunaan di dunia kedokteran sangat ketat sebab dapat menimbulkan ketergantungan. Penyalahgunaan Ektasi sebagaimana Alkohol akan  menimbulkan “Gangguan Mental Organik” yaitu suatu gangguan mental/jiwa yang disebabkan karena reaksi langsung zat ini pada sel-sel syaraf. Ektasi sebagaimana golongan NAZA lainnya dapat menimbulkan ketagihan hingga ketergantungan, karena zat ini mempunyai 4 sifat utama, yaitu :

1. Keinginan yang tak tertahankan terhadap zat yang dimaksud. kalau perlu dengan jalan apapun untuk memperolehnya (an overpowering desire)

2. Kecenderungan untuk menambah takaran/dosis sesuai dengan toleransi tubuh, hingga overdosis atau keracunan (intoksikasi)

3. Ketergantungan secara psikis

4. Ketergantungan secara Fisik (‘gejala putus zat’)

Dalam satu jam sesudah penggunaan ektasi akan timbul gangguan mental organik (GMO) pada diri pemakai berupa gejala psikologik dan fisik. Yang Termasuk gejala Psikologik adalah agitasi psikomotor, rasa gembira (elation), rasa harga diri meningkat (grandiosity), banyak bicara, dan kewaspadaan meningkat.

Adapun gejala fisik adalah berdebar-debar , pelebaran pupil mata, tekanan darah meninggi atau rendah, berkeringat atau rasa kedinginan, gangguan daya nilai, hendaya atau halangan (impairment) dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Kesadaran menurun (delirium) dapat terjadi 24 jam sesudah pemakaian  dan bila tak tertolong dapat berakibat kematian.

Pada umumnya orang memakai ektasi untuk memperoleh rasa gembira yang berlebihan dan tidak mengenal lelah. namun efek yang diinginkan ini dapat berakibat fatal, karena untuk mempertahankan efek tersebut orang akan selalu menambah dosis dan tanpa disadari akan melampaui dosis (overdosis) dan dosis intoksikasi (keracunan).

Gejala-gejala intoksikasi atau keracunan adalah : rasa gembira yang berlebihan, energi yang berlebihan, kewaspadaan berlebihan, nafsu makan menurun , rasa cemas dan tegang, sukar tidur, mudah marah dan tersinggung, pusing, gerakan stereotip, rasa curiga/paranoid. halusinansi, delusi, gangguan meniali realitas, gangguan identitas diri, gangguan alam berfikir, Si pemakai dapat jatuh dalam keadaan koma dan bisa meninggal karenannya .

Dari uraian singkat tersebut diatas  jelaslah bahwa untuk memperoleh rasa gembira dan energi yang berlebihan itu resikonya amat besar. Karena ketergantungannya dosis semakin meninggi hingga overdosis atau keracunan (lethal dose) yang dapat mengakibatkan kematian. Sebaliknya karena ketagihannya, bila pemakaiannya dihentikan si pemakai dapat jatuh dalam depresi berat yang mengakibatkan pikiran-pikiran bunuh diri sehingga berakibat kematian pula, suatu kematian yang sia-sia. Dan yang memprihatinkan penyalahgunaan NAZA termasuk Ektasi terbanyak diderita oleh remaja dan dewasa muda dan ini merupakan ancaman serius di masa sekarang dan yang akan datang.

Penelitian tentang NAZA, yang dilakukan Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari diperoleh data-data dan kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada umumnya kasus (penyalahgunaan NAZA) mulai memakai NAZA pada usia remaja (13-17 tahun) sebanyak 97 %  dan usia termuda 9 tahun.

2. Sebagian besar kasus (68 %) menggunakan NAZA ganda (alkohol + sedatif / hipnotika + ganja )

3. Sebagian besar (80%) NAZA diperoleh dari teman (pada awalnya)

4. Alasan kasus  menggunakan NAZA pada umumnya  (88%)  untuk menghilangkan kecemasan, kemurungan, ketakutan,  dan sukar tidur. Sebanyak  36 % digunakan untuk memperoleh kenikmatan/kesenangan semata.

5. Urutan mudahnya NAZA diperoleh adalah Alkohol (88%),  sedativ hipnotika (44%), dan ganja (30,7%)

6. Dampak penyalahgunaan NAZA : Prestasi sekolah merosot (96%); hubungan kekeluargaan memburuk  (93%),  perkelahian dan tindak kekerasan (65,3%), dan kecelakaan lalu lintas (58,7%)

7. Sebanyak 54,07 % dari kasus menyatakan akan mengganti dengan alkohol kalau NAZA yang mereka inginkan tidak ada, 58,07% suka mencampur (kombinasi) satu zat dengan zat yang lainnya, 53,3%hanya memakai satu jenis saja, dan 50,7 %  memakai NAZA bergantung kepada yang tersedia dipasaran.

8. Remaja dengan kepribadian antisosial (psikopatik)  mempunyai resiko relatif 19,9 kali untuk menyalahgunakan NAZA.

9. Remaja dengan depresi mempunyai resiko relatif 18,8 kali untuk menyalahgunakan NAZA.

10. Remaja dengan kecemasan mempunyai resiko relatif 13,8 kali menyalahgunakan NAZA

11. Remaja dengan kondisi keluarga yang tidak baik mempunyai resiko relatif 7,9 kali untuk menyalahgunakan NAZA.

PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL

Kemerosotan moral remaja yang juga sangat memprihatinkan  adalah  penyimpangan perilaku ‘cinta’ dan ‘seksual’. Penelitian Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam Indonesia (PSK UII) Yogyakarta mengenai masalah hungan seks sebelum nikah di Yogyakarta menunjukkan angka cukup tinggi yaitu 26,3% dari  846 peristiwa pernikahan yang diamatinya. Dari presentase itu, 50% menyebabkan kehamilan.  Pelakunya adalah generasi muda berpendidikan SMTA sebanyak 26.64% , berpendidikan akademis 22.54% dan selebihnya pengangguran.

Puslit Ekologi Kesehatan Badan Litbang kesehatan telah melaksanakn penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku remaja SLTA dan Perguruan Tinggi di Jakarta dan Yogya tahun 1985.  dalam memandang masalah kesehatan termasuk seksual. Jumlah responden yang berumur 15-24 tahun tersebut mencakup 1000 siswa SLTA dan 1000 mahasiswa pri dan wanita di masing-masing kota. Hasilnya  di Jakarta dan Yogya yang pernah nonton Blue film adalah 46,6% dan 28,9%.  Usia pertama kali menonton blue film terbanyak pada usia 15-19 tahun yaitu 71,2% dan 66,9%. Perasaan / sikap setelah menonton, 30,8% dan 36,6%  merasa puas/ senang,  ingin melakukan 12,6% dan 4,8%, yang merasa berdosa 31,0% dan 32,1%, sisanya hanya merasa biasa saja.

Penelitian kedua tentang perilaku saat pacaran di Jakarta dan Yogya. Hasilnya : berkunjung ke rumah atau jalan berdua  41,3% , cium pipi 12%, cium bibir 25,4% , Pegang buah dada 9,6% , pegang alat kelamin 7,5% dan senggama 4,2%.

Ditinjau dari usia pertanma kali melakukan senggama sebelum nikah pada kedua daerah adalah usia 10-14 tahun 9,2% , usia 15-19 tahun 49,2% , usia 20-24 tahun 41%. Faktor pendukung   terbanyak karena suka sama suka (75,8%) disusul karena kebutuhan biologis (11,1%).  Sedangkan faktor latar belakangnya yang terbanyak adalah kegemaran membaca buku porno/nonton BF (51,7%) , kurang taat nilai agama (23,3%), pengaruh teman/ kebutuhan biologis (16,4%), sisanya karena orangtua/keluarga.

Salah satu akibat penyimpangan perilaku seksual adalah timbulnya berbagai macam penyakit kelamin dan salah satu penyakit kelamin yang sangat meresahkan serta ‘mematikan’ adalah “AIDS”.

AIDS & PROBLEMATIKANNYA

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah penyakit fatal oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibatnya  penderita penyakit ini menjadi  amat rentan terhadap serangan infeksi termasuk oleh micro organisme yang bersifat saprofit/jinak sekalipun. Manifestasi penyakit AIDS amat bervariasi tergantung macam infeksi sekunder yang dialami penderita, namun umumnya korban akan menderita sekali sebelum menemui ajalnya.

AIDS sangat meresahkan karena :

– AIDS adalah penyakit menular yang cepatmenyebar (pandemis) keseluruh dunia

– Belum ada obat yang menyembuhkan penyakitnya

– Belum ada vaksin yang mampu mencegah timbulnya penyakit

– Sangat ganas angka kematian sangat tinggi. Umumnya penderita meninggal sebelum lima tahun setelah timbulnya gejala pertama

– AIDS menyerang semua lapisan masyarakat

– Penularan utama melalui hubungan seksual

– Seorang yang tertular HIV, potensial menular seumur hidup walaupun tampak sehatt

– Informasi mengenai AIDS kurang dipahami.

Penyebab penyakit AIDS ini baru diketahui pada tahun 1983. Dan dapat berada pada semua cairan tubuh manusia (selain pada darah, air mani dan cairan vagina, virus juga ditemukan di dalam ludah dan air mata) namun untungnya virus ini dikenal sebagai virus lamban berkembang biak, tidak seperti influenza. Oleh karena itu penularan AIDS tidak mudah, dalam arti perlu beberapa kali terinfeksi dan dalam jumlah relatif banyak. Penularan melalui persentuhan atau aliran udara dan pernafasan  belum terbukti bisa terjadi. Virus hanya akan menginfeksi tubuh melalui 2 jalan utama  yaitu infeksi langsung ke aliran darah seperti kasus penggunaan alat suntik/ alat kedokteran yang tak steril,  atau transfusi darah dan infeksi melalui hubungan kelamin.

Kasus terinfeksi melalui hubungan kelamin terjadi peningkatan kuat  jika hubungan kelamin dilakukan tidak normal dan tidak bernorma, seperti halnya dengan hubungan kelamin sesama homoseks (pertama kali ditemukannya penyakit AIDS) , perzinaan atau pelacuran. Oleh sebab itu penjalaran penyakit AIDS umumnya terletak pada masalah lingkungan sosial, khususnya lingkungan yang terkait dengan penyimpangan perilaku seksual, penggunaan obat bius yang sering menggunakan alat suntik tidak steril.

Penyakit AIDS relatif baru dikenal manusia dan diyakin belum ada di dunia pada tahun 1970. Pertama kali ditemukan di benua Afrika kemudian menjalar ke Amerika Serikat – Canada – Eropa Barat – Amerika Selatan – Australia, seterusnya berkembang ke Eropa Timur – Asia (termasuk Indonesia) dan akhirnya diperkirakan akan menyentuh Timur Tengah. Laporan WHO  menyatakan pada akhir Januari 1992 terdapat kasus infeksi virus AIDS sekitar 10 juta orang. Analisa WHO ternyata   aspek kecepatan penjalaran penyakit AIDS dari tahun 1980 ke tahun 2000 nanti dinyatakan bahwa akan terjadi peningkatan kasus yang luar biasa di ASIA, melebihi kasus di Amerika dan Eropa dan menjadi benua dengan kasus AIDS terbanyak nomor dua di dunia setelah Afrika.

Sejarah penyakit AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada bulan April 1987 di saat ada laporan kematian wisatawan Belanda dan kasus kematian dua orang WNA pada bulan November 1987  asal Canada yang pernah tinggal selama dua tahun di Indonesia. Pada sebuah survey di Indonesia membuktikan bahwa 95,7% penularan HIV/AIDS didapat dari pelacuran (hubungan seks).  Dan pada Juni 1996 yang tercatat sudah 406 orang.  Studi epidemiologik membuktikan bahwa setiap orang  yang HIV-nya positif berarti ada 100 orang lainnya yang juga positif.  Setiap penderita AIDS yang ditemukan berarti ada 200 orang penderita lainnya.

Sehingga angka di atas bukanlah mustahil! Ungkap Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari,  Psi. Dalam ceramah tentang NAZA ( Narkotika, Alkohol,dan Zat Aditif ) yang diselenggarakan Islamic Center Iqro’, Pondok Gede, akhir September lalu.

Juga disebutkan bahwa penyebaran penyakit yang satu ini memang sungguh luar biasa. Mantan Presiden AFPMH (ASEAN Federation for Psychiatry and Mental Health) periode 1993-1995 ini mengemukakan, enam tahun yang lalu AIDS  tidak ditemukan di Rwanda. Tapi kini , di ibukota Kigali saja, satu dari tiga orang dewasa dan 40 % dari wanita yang hamil HIV-nya positif. Survey juga membuktikan 50 % personil militer negara itu HIV-nya positif.

Di harian Pelita ( 20/ 6 ‘96), ia juga menulis bahwa ledakan AIDS akan terjadi pada tahun 2000 dimana jumlah penderitanya sudah mencapai 2,5 juta orang.  Sedangkan biaya untuk menanggulanginya mencapai 33 trilyun rupiah.  Bandingkan dengan anggaran belanja negara kita yang  95 trilyun.  Itu berarti 30 % dana anggaran belanja kita akan digerogoti AIDS.  Dapatkah kita tinggal landas bila demikian keadaannya ?

Pendekatan agama diragukan ?

Sebagian masyarakat kita masih meragukan mampukah pendekatan etika agama mencegah penularan HIV/AIDS di Indonesia ? meski masyarakat Indonesia disebut masyarakat religius, tidak ada jaminan bahwa penularan HIV/AIDS dapat dicegah. Maka satu-satunya jalan adalah menganjurkan masyarakat Indonesia untuk melindungi diri mereka dengan kondom ! Mereka bahkan mengatakan, belajarlah dari pengalaman Australia, Thailand dan AS, misalnya, yang mencegah penyebaran HIV/AIDS lewat kondomisasi. Benarkah? bukankah di balik kondomisasi itu berlangsung demoralisasi.

Saya setuju kita harus belajar dari pengalaman negara-negara lain. Justru disitulah letaknya. Mengapa banyak orang terjangkit HIV/AIDS di Australia , Thailand, As dan negara-negara lainnya ? Sebab mereka permisif terhadap sex. Pelacuran dan pergaulan bebas marak dimana-mana, homoseksual membudaya, dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan dalih ini mereka ‘menghalalkan’ kontak seksual dengan siapa, dimana dan kapan saja, sepanjang tidak memperkosa dan tidak menggauli anak kecil. Tidak ada ketentuan harus menikah disana!

Kita sebagai bangsa yang mempunyai etika budaya yang religius seharusnya  menggunakan modal ini untuk kampanye mencegah HIV/AIDS ketimbang kondomisasi. Dan ini harus digelar terus menerus dengan konsisten serta berkesinambungan, guna menyelamatkan masyarakat dan bangsa dari kepunahan akibat penyakit maut AIDS, penyakit ‘peringatan Tuhan’.

“Dan janganlah kamu mendekati Zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan jalan yang buruk (QS. Al-Israa : 32).

Selain ayat tersebut, Allah juga berfirman “ Telah tampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum : 41).

Sebuah hadits menyatakan ”Bila perzinahan dan riba  sudah melanda suatu negeri, maka penghuninya sudah  menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah “

(HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim).

Hadis lain menyatakan “Bila perzinahan sudah meluas dimasyarakat dan dilakukan secara terang-terangan (dianggap biasa), infeksi dan penyakit mematikan yang sebelumnya tidak terdapat pada zaman nenek moyang mereka akan menyebar diantara mereka” (HR. Ibn Majah, Al Bazaar dan Baihaqi)

Dalam pendekatan keagamaan, kita percaya semua agama tidak membenarkan umatnya melakukan kontak seksual diluar nikah. Bukankah ajaran agama ini sesuai dengan temuan ilmiah dalam hal penyebaran AIDS? Lalu mengapa ada orang yang tidak melakukan perzinahan bisa juga tertular AIDS. Bukankah dengan demikian Tuhan tidak adil? jawabannya adalah sebuah hadist : “Bila kamu jumpai kemungkaran diantara kamu dan kamu tidak mencegah serta tidak menanggulanginya, dikhawatirkan Allah menurunkan azabNya. Azab itu bersifat menyeluruh”. (HR. AT-Tirmidzi)

Masalahnya berpulang  kepada kita semua, ummat beragama. Karena ternyata masih banyak dari kita memisahkan ajaran agama dengan kehidupan masyarakat (dikotomi). Kalau kita benar-benar meyakini agama kita  masing-masing dan dihayati serta diamalkan; juga penertiban terhadap sarana dan prasarana pelacuran, gaya hidup bebas dan homoseksual, Insya Allah akan selamat. Tapi, kalau kita tidak mampu dan tidak peduli, firman Allah akan berlaku atas kita dan kini telah terbukti. Masyarakat dan bangsa kita belum terlambat. Kita tidak boleh  menyerah serta berputus asa dalam upaya meningkatkan ketaqwaan dan keImanan kita , sebab meskipun menggunakan kondom , zina tetap diharamkan dan bukan menjadi halal karenanya.

Dari perspektif agama, perilaku seksual yang sehat, aman dan bertanggung jawab adalah yang halal dan yang halal adalah menikah .

SEBAB TERJADINYA KEMEROSOTAN MORAL REMAJA

Muara permasalahan kemerosotan moral remaja ini dikarenakan dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor dari dalam diri sendiri yang menyebabkan hasrat penyimpangan, antara lain:

1.  Kurangnya pemahaman agama

Agama telah mengajarkan bagaimana akhlak dengan orang lain, baik terhadap yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Demikian pula akhlak terhadap wanita dan  tata pergaulan dengan teman sebaya. Juga mengajarkan mana yang boleh dilaksanakan dan mana yang tidak boleh.

2.  Pola asuh orang tua yang salah

Pola asuh adalah pola pendidikan yang diberikan orang tua pada anak-anaknya. Bila orang tua mendidik dengan terlalu mengekang ataupun sebaliknya terlalu permisif (serba boleh) akan menghasilkan anak yang  berperilaku menyimpang.  Misalnya menjadi anak yang tidak peka terhadap masalah sosial, suka mengganggu, atau cengeng, tidak mandiri. Ditambah lagi sekarang banyak orangtua yang sibuk (kedua orang tua bekerja) sehingga perhatian kepada anaknya sangat kurang

Termasuk pola asuh adalah mendidik agama pada anak-anak sejak dini.

3.  Kepribadian yang in adekuat

Kepriibadian yang utuh dan sehat merupakan salah satu modal utama untuk mencapai cita-cita. Sebaliknya kepribadian yang indekuat memunculkan sikap impulsif, agresif atau cenderung dekstruktif.

Sedangkan faktor eksternal adalah adanya proses transformasi budaya. Indonesia yang pernah melaksanakan  strategi kebijakan “open door policy” di bidang kebudayaan  tampaknya amat merugikan kualitas sumber daya manusia Indonesia . Dengan adanya transformasi budaya dari luar inilah yang menyebabkan perobahan ‘gaya hidup’ masyarakat yang tidak sehat dimana masyarakat kita mempunyai anggapan supaya dikatakan modern maka harus mengikuti gaya hidup barat . Padahal kalau kita perhatikan   budaya dari negara Barat itu substansi dasarnya adalah :

– Budaya materialistik (orientasi keduniaan), yakni orang dipacu mencari materi dan menikmati materi.

– Budaya permisivesness (orientasi serba boleh), terutama masalah hubungan seks bebas dan pornografi

TERAPI PENYIMPANGAN MORAL REMAJA

Melihat faktor-faktor penyebab diatas maka tidak ada jalan lain terapinya adalah kembali berpegang teguh pada tali Allah, yaitu ‘Agama Islam’ , karena  keyakinan akan benarnya ajaran agama akan mendidik manusia untuk berakhlak mulia dan mematuhi tuntunan hidup sosial dari Maha Pencipta dalam semua segi kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama harus dipandang sebagai teknologi pembangunan bangsa, mengandung banyak kebijakan sosial yang harus diterapkan dalam upaya membangun bangsa, bukan diperlakukan hanya sekedar masalah akherat, ritual dan pribadi.

Berdasarkan pengamatan empiris , penilitian ilmiah, serta tuntunan Alqur’an dan Sunnah, dalam hal memerangi penyimpangan moral remaja (penyalahgunaan NAZA, AIDS dan penyimpangan sexual) Islam lebih menekankan pada aspek pencegahan antara lain :

1. Penanaman pendidikan agama sejak dini.

Hasil penelitian ilmiah  telah membuktikan bahwa remaja yang komitmen agamanya lemah  mempunyai resiko lebih tinggi (4 kali) untuk terlibat penyalahgunaan NAZA bila dibandingkan dengan remaja yang komitmen agamanya kuat (Hawari 1990)

2. Kehidupan beragama di rumah tangga perlu diciptakan dengan suasana rasa kasih sayang antara ayah-ibu-anak.

Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa  anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak religius, resiko anak untuk terlibat penyalahgunaan NAZA (kemerosotan moral) jauh lebih besar dari pada anak yang dibesarkan dalam keluarga religius.

(Hawari, 1990, Stinnet, J. Defrain, 1987)

3. Peran dan tanggung jawab orang tua amat penting dan menentukan bagi keberhasilan pencegahan kemerosotan moral, yaitu :

a. Orang tua di rumah (ayah dan ibu), ciptakan suasana rumah tangga yang harmonis (sakinah), tersedia waktu dan komunikasi dengan anak, hindari pola hidup konsumtif, beri suri teladan yang baik sesuai dengan tuntunan agama.

b. Orang tua di sekolah (bapak dan ibu guru), ciptakan suasana/kondisi proses belajar mengajar yang kondusif bagi anak didik agar menjadi manusia yang berilmu dan beriman.

c. Orang tua di masyarakat (tokoh masyarakat, ulama, pejabat, pengusaha, aparat), ciptakan kondisi lingkungan sosial yang sehat bagi perkembangan anak / remaja. Hindari sarana dan peluang agar anak dan remaja tidak terjerumus / terjebak dalam kemerosotan moral.

4. ‘Political will’ dan ‘Political action’ Pemerintah perlu dukungan kita semua  dengan diberlakukannya Undang Undang, dan peraturan-peraturan disertai tindakan nyata dalam upaya melaksanakan “amar ma’ruf nahi munkar” demi keselamatan anak/remaja generasi penerus dan pewaris bangsa.

Gravatar Image
Wahyu Tri Sasongko, Seorang Ayah yang punya hobby Ngeblog sekaligus menjalankan bisnis dibidang Teknologi Informasi, Aktif sebagai Trainer Aplikasi Opensource, Trainer pembuatan website, sekarang belajar menjadi seorang internet marketer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *